FINALLY ENGAGED: The First Step

33419162111_34b59df32b_z

Setelah menikah beberapa bulan lalu, banyak teman yang menanyakan bagaimana proses persiapan lamaran sampai akhirnya menikah. Berhubung waktu persiapan pernikahan beberapa waktu lalu saya juga bergantung pada cerita-cerita di blog, saya berpikir untuk berbagi saja bagaimana proses persiapan pernikahan saya di sini. Yang utama dalam persiapan pernikahan itu bukan pemilihan vendor, tapi membangun hubungan antara orangtua dan pacar kamu. Berlaku juga sebaliknya.

Jadi, setelah 3 tahun lebih pacaran, akhirnya saya dan Avis resmi lamaran juga! Tidak ada proposal romantis yang direncanakan, karena kami sama-sama tahu kalau kami memang selama ini pacaran untuk menikah. Sebenarnya, Avis pertama mengajak saya menikah itu via telepon, saat saya sedang libur kuliah di Lampung tahun 2013. Reaksi saya saat itu adalah: nangis sesenggukan! Sejadi-jadinya karena Avis memaksa mengajak menikah tahun depan, padahal kami saat itu baru 6 bulan jadian dan saya masih kuliah jadi bener-bener nggak ada pikiran kesitu. Walaupun saya bilang nggak ada pikiran kesitu, tetep aja malem itu juga saya langsung buat akun weddingku terus set tanggal pernikahan di awal 2017 padahal kesepakatannya setelah diskusi nggak pake nangis, akhir 2016 mau menikah haha.

Setelah waktu mendekati tahun 2016, sebagai anak tertua yang nggak pernah sekalipun hadir di acara lamaran pun nggak ada kakak yang bisa ditanya, akhirnya saya tanya mama saya, Mama maunya gimana lamarannya. Karena bagaimanapun juga orang tua itu pihak yang penting dalam acara lamaran, jadi sebisa mungkin kita sounding dulu sebelumnya kalau anaknya mau dilamar. Sehubungan saya nggak pernah memperkenalkan pacar saya yang sudah 3 tahun itu selain salim doang pas latihan biola atau konser, nggak mungkin kan kalau pacar saya ujug-ujug datang ke rumah dan melamar? Kemungkinan 70% ditolak karena Papa saya tidak kenal!

Jadi saya merencanakan cara gimana supaya Avis dan keluarga saya bisa saling mengenal. Kebetulan liburan akhir tahun keluarga saya main ke Bogor dan berencana jalan-jalan ke Puncak, saya tanya deh sama Avis kalau dia mau ikut apa nggak jalan-jalan ke Puncak. Di saat bersamaan saya tanya dulu ke Mama supaya nanya ke Papa boleh nggak kalau Avis ikut. Saat keduanya oke, jalan deh dan alhamdulillah Avis dapat kesan positif dari Papa kalau nyetirnya enak, udah sih itu aja kesannya yang keluar dari mulut Papa. Let’s take it as a good signal :D

Sebulan kemudian, saat ada long weekend di bulan Februari, kami merencanakan untuk Avis melamar langsung ke Papa saya, tentunya dengan dengan pendapat kedua orang tua juga. Sendirian saja dulu, itu juga berdasarkan saran dari Mama. Supaya Avis mengenal dulu bagaimana rumah dan jalanan di Lampung, jadi lebih bisa meng-guide keluarganya saat datang resmi melamar. Rencananya saya pulang duluan di hari kamis malam, baru Avis datang di hari Sabtu, menginap semalam di hotel, dan kembali ke Jakarta bareng saya dan Aisya. Nggak boleh naik pesawat berdua aja, nggak boleh nginep di rumah, itu deh sarannya orang tua. Diikutin aja.

Jadi prosesnya, pagi Avis sampai di Lampung, dan setelah makan siang bersama di rumah, saya dan Mama sengaja ninggalin Avis dan Papa berdua di ruang makan. Sebelumnya sounding dulu juga. Saya udah bilang ke Avis kalau nanti akan dikasih kesempatan buat ngomong, dan Papa juga udah dibilangin sama Mama kalau Avis ini ke Lampung buat ngelamar, dan waktunya pas udah selesai makan siang aja, biar kegiatan sore dan besoknya juga udah plong nggak ada yang ditunggu-tunggu lagi. Penuh settingan haha.

Sementara saya dan Mama tidur-tiduran di kamar, kami menunggu gimana kabar obrolan itu karena kok cukup lama juga. Dan setelah keduanya selesai dari ruang makan langsung deh tanya bisik-bisik, gimana? :D Dan yang paling saya ingat dari percakapan dengan Papa, “La, masa tadi Avis minta Lala.” Terus gimana, Pa? “Yaudah terserah aja.” Yaudah gitu aja, but I really can’t forget my father’s expression. He seems so happy with the big smile on his face while telling me that.

Jadi, rencana selanjutnya untuk mempertemukan kedua keluarga. Karena, berdasarkan konsultasi lagi, nggak enak ketemunya langsung pas lamaran, enakan ketemu informal dulu. Jadilah kita bikin acara pertemuan berkedok ulang tahunnya Avis. Kebetulan banget Avis lagi off kerjanya dan lagi ulang tahun juga, Papa Mama juga emang udah lama gak berkunjung ke Depok jadi sekalian aja deh ketemuan di Bandar Jakarta Ancol. Disini kenalan-kenalan aja dan nggak ngomongin soal lamaran sama sekali juga, karena kan buat mengenal satu sama lain aja.

Minggu, 14 Agustus 2016, jadi deh kita lamaran sederhana dihadiri keluarga dan tetangga dekat. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar karena sudah direncanakan dengan matang. Intinya rajin curhat ke orang tua itu membantu banget kok, tapi disortir juga ya  curhatnya. Bagaimanapun, kita sebagai pihak penengah antara orang tua dan calon kita, calon kita pun punya tugas yang sama, jadi kita harus bisa menyampaikan dan membangun kesan yang baik dari masing-masing pihak kalau beneran sudah serius dan yakin ingin menjalani hubungan yang lebih lanjut. Jadi, udah yakin belum?

33548142795_697ef6ccbc_z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s