Apakah manusia butuh manusia lain untuk dapat hidup bahagia?

Kalau pertanyaannya “Apakah manusia butuh manusia lain untuk hidup?” anak SD pun tahu. Di sekolah sudah cukup dijejali bahwa yang namanya manusia itu merupakan makhluk sosial yang butuh orang lain. Darimana manusia bisa makan nasi kalau tidak ada petani? Darimana manusia bisa mengenakan pakaian bila tidak ada penjahit? Contoh standar yang biasa dipakai untuk menunjukkan bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Tapi bukan kebutuhan akan sandang dan pangan yang akan dibahas. Tetapi, komunikasi.

Manusia yang punya banyak teman dan segudang kegiatan katanya pasti bahagia. Punya keluarga yang mencintai pastinya bahagia. Punya kekasih pun bahagia.

Tetapi, manusia yang kelihatannya tidak punya teman, tidak aktif berkegiatan, tidak tahu dekat atau tidak dengan keluarganya, atau tidak punya kekasih apakah pasti tidak bahagia?

Sering saya melihat teman-teman yang selalu bergerombol dengan kelompoknya, kadang berisik, terlihat menyenangkan, namun begitu jalan sendiri seperti anak bebek kehilangan induknya, diam, tidak bisa kemana-mana. Ke toilet, ke kantin, berkegiatan, semua harus bersama-sama. Mereka kelihatan bahagia bila bersama. Tapi apa kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka itu benar-benar memancarkan kebahagiaan di hati karena bersama-sama teman ataukah hanya karena tidak mau kehilangan kehidupan sosial?

Sering juga melihat teman-teman yang sendiri tanpa iringan teman. Bebas sesuka hati melangkahkan kaki tanpa harus mempedulikan sekitar. Kelihatan lebih sigap, tegas, walau kadang menyedihkan melihatnya. Sedih karena merasa mereka tidak bahagia tanpa teman-teman di sekelilingnya. Tapi apakah teman-teman yang sering sendiri berkegiatan itu tidak bahagia?

Masalah memiliki keluarga yang mencintai itu tidak mau saya membahasnya. Tidak tahu apa-apa. Sampai saat ini tidak pernah menemukan orang yang membenci keluarga dekat yang mencintainya.

Kekasih…
Seorang teman saat ditanya apakah bahagia memiliki kekasih menjawabnya dengan cepat, bahagia. Menguntungkan karena bisa saling menyayangi dan tidak ada ruginya memiliki kekasih.

Teman yang lain pun menjawab bahagia. Namun tidak bahagia saat bertengkar, kadang perasaan tidak bahagia itu walaupun jarang terjadi tapi efeknya bisa sangat besar. Berpuluh-puluh kali lipat dari perasaan paling bahagia yang pernah dirasakan. Wajar.

Teman yang tidak punya kekasih, apa kabar?
Di lisannya merindukan seorang kekasih, yang bahkan namanya saja tidak tahu. Tapi kelihatannya tetap bahagia. Terlupa akan sosok yang dirindukannya saat aktif berkegiatan, mungkin dalam gelapnya malam barulah ia kembali merindu.

Jadi, apakah manusia butuh manusia lain untuk dapat hidup bahagia?
Saya menjawabnya dengan ya.
Bagaimanapun manusia diciptakan bisa berbicara untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Si anak geng berkumpul dengan teman pasti berbahagia, walau kadang senyumnya palsu, tapi pasti bahagia.
Si penyendiri sendirian juga bukannya tidak berbahagia, kita hanya tidak tahu letak dunia kebahagiannya.
Si manusia berkeluarga pasti bahagia, melihat curahan kasih sayang keluarga yang tidak ada habisnya.
Si pencinta juga pasti bahagia walau ada kalanya dilanda kesedihan sebesar gunung.
Si jomblo pun bisa berbahagia dengan dunia pelanginya, hanya perlu menunggu satu warna.
Karena kadang kita perlu melihat orang lain untuk merasakan rasa bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s